Remember Love You
Aku menghembuskan nafasku berat, ketika sebuah tugas desain
vector membuatku tak bisa bernafas selama berkuliah. Apalagi ditambah tugas
dari komunitas yang aku ambil, yaitu BEM. Namun disela-sela itu, aku juga masih
memiliki waktu luang, untuk bercerita, bermain, bahkan menonton film.
Aku menyukai Anime, manga dan semua yang bergenre fantasy.
Biasanya aku disebut “Otaku”, karena aku lebih menghabiskan waktuku untuk
menonton itu, bahkan ketika semua mengajak hangout atau sekedar cuci mata, aku
memilih untuk tetap tinggal dirumah.
Pada scedule rutin dari Devisi Diklat, hari ini tanggal 2
Mei adalah Hari Pendidikan Nasional. Aku melaksanakan apel pagi, bersama dosen
dan teman-teman BEM yang lain. Rasanya hambar sekali, membosankan. Apalagi aku
menjadi ajudan yang harus berada diatas mimbar bersama Dosen Pembina. Namun,
tepat saat rasa bosanku menyerang, seseorang membuatku mengalihkan mataku.
Seorang lelaki yang sangat familiar, namun aku tidak mengenalnya. Bahkan hingga
apel selesai, aku mengikuti kemana pria itu pergi. Aku melihatnya mengobrol dengan
salah satu anak DKV juga. Dia mengobrol dengan Stella, temanku. Namun aku
mengurungkan niatku untuk bertanya, karena aku masih belum yakin dengan apa
yang aku rasakan.
Dua hari berlalu. Pikiranku tentang dia tak pernah bisa
menghilang, aku pikir ini cinta pada padangan pertama. Tanpa pikir panjang aku
bertanya pada seseorang yang mengenal lelaki itu. Namanya adalah Bintang
Mahardika Prasetya, dari jurusan PLB (Pendidikan Luar Biasa), biasanya jurusan
ini adalah jurusan untuk mengajar siswa siswi berkebutuhan khusus. Namun siapa
sangka, ternyata Kak Dika adalah seorang yang berkebutuhan khusus juga, dia
adalah seorang Tuna Rungu dan Tuna wicara.
Kaget adalah hal biasa. Namun aku tak mau menunjukan
responku berlebih pada temanku. Aku bersikap biasa, seolah tak terjadi apapun
pada diriku, namun aku tak bisa mengelaknya. Hari berikutnya aku bertemu
dengannya. Dia tersenyum padaku, akupun membalas senyumannya. Hati ini bergetir,
rasanya aku benar-benar menyukainya walaupun aku sudah tau siapa dia. Seolah
aku tidak peduli apa kekurangannya. Aku rasa, ini benar-benar cinta pada
pandangan pertama.
***
Tanggal 6 Mei. Sudah
empat hari aku merasakan sesuatu yang berbeda ketika bertemu Kak Dika. Malam
ini aku hendak tidur, karena besok harus menyelesaikan tugasku di kampus. Namun
tiba-tiba poselku bergetar. Sebuah pesan whatsapp dengan nomor asing yang
tertera disana. Tetapi ketika aku melihat fotonya... kak Dika?
082511125567
Ini Luna?
Iya, ini kak Dika ya? Ada apa?
Ternyata kamu
kenal saya ya 😊
kamu masuk salah
satu perwakilan BEM
untuk bakti sosial
ke panti berkebutuhan
khusus kan?
Iya kak, aku besok ikut baksos
Boleh minta
datanya? Nama lengkap,
NIM, semester, jurusan dan fakultas ya.
Luna Silva, 201408087, semester
4
jurusan DKV fak Seni rupa dan
desain.
Sip, soalnya saya
butuh datanya.
makasih ya. 😊
Deg... pesan
singkat yang berhasil membuatku lemas. Senyumku mekar tanpa bisa menciut. Malam
ini sangat indah. Pesan eksklusif dari kak Dika membuatku tak bisa apa-apa.
***
Hari ini. Hari dimana aku harus melaksanakan bakti sosial,
aku tau disini akan ada kak Dika, sehingga membuatku cukup semangat.
“Luna, kamu senyum-senyum gitu, ada apa?” tanya Stella yang
ikut bakti sosial bersama ku juga.
“Aku gak senyum-senyum kok” jelasku sedikit terkejut
“Dapet pacar ya?”
“Apasih Stel, ngawur aja” ucapku ketika sahabatku
menggodaku.
Aku melihat Kak Dika disudut, bersama dengan teman-temannya.
Mataku tak beralih sedikitpun dengannya, sampai akhirnya kakak tingkatan yang
setingkat dengan Kak Dika menyentuh bahuku. “Luna, kamu satu mobil dengan Dika
dan Nella ya”
***
Tepat setelah hari itu, Kak Dika sering mengajakku makan
bersama, main dan sekedar menghabiskan waktu. Aku sedikit kaget, karena dulu
dia adalah seorang pembalap motor. Dia berhenti, karena dia harus mengalami
kecelakaan hingga rusuknya patah. Sebenarnya, hal yang membuatku aneh adalah
mengetahui, bahwa Dika adalah seorang dari keluarga terpandang. Ayahnya seorang
pemilik perusahaan besar di Jakarta, sedangkan ibunya adalah pemilik butik
terkenal di Yogya. Aku sedikit tersudut, karena banyak kelebihan yang Dika
miliki daripada aku. Dia seorang yang tampan, bahkan bagi seseorang yang
melihatnya pertama akan tidak akan percaya, bahwa dia seorang Tuna Rungu.
Dia bisa berkomunikasi denganku, karena aku dan dia
sama-sama melihat artikulasi dari bibir kami. Sesekali dia membawa sebuah
handphone nokia kecil ketika aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Karena
tulisan lah yang cocok ketika kami tersudut dalam sebuah obrolan hampa.
2 tahun aku berteman dengannya. Entah mengapa dia bisa
berteman lama denganku tanpa adanya perasaan lebih. Ini pertama kalinya bagiku
menahan rasa cintaku. Padahal aku ingin berharap, suatu saat dia akan
menyatakan cinta padaku. Tapi ternyata tidak sama sekali.
Dia sudah bekerja, menjadi pengajar siswa siswi Tuna rungu
dan Tuna wicara di Semarang. Sedangkan aku masih sibuk dengan skripsiku.
disela-sela skripsiku ini, aku meluangkan waktuku untuk belajar bahasa isyarat
tanpa sepengetahuannya. Sangat sulit, tapi aku tidak peduli. Cinta sudah
membuatku menjadi sosok yang mau menghargai orang lain.
Hari ini, malam minggu aku bertemu dengannya. Sorot matanya
indah seperti biasa. Hari ini aku memutuskan untuk memberi sedikit kejutan
padanya, bahwa aku bisa berbahasa isyarat.
“Aku sudah bisa” ucapku dalam bahasa isyarat. Dika sedikit
terkejut, hingga ia menatapku sedikit dalam “Kau belajar dari mana?” tanyanya
dalam Bahasa Isyarat.
“Dari seorang teman. Aku berharap ini memudahkan komunikasi
kita”
“Kenapa kau sulit-sulit belajar? Ini tidak penting untukmu”
Aku mengrenyitkan dahiku, sedikit kecewa dengan apa yang dia
katakan.
“Aku belajar untukmu, kenapa kau malah marah?” tanyaku
sedikit gugup.
“Kau tau, aku membuat susak banyak orang, jangan membuatku
semakin susah Lun” ucapnya dengan sebuah kata dari mulutnya walaupun tanpa
suara. Aku melihatnya berdiri dan pergi dari tempat duduk cafe. Aku tak bisa
menahan air mataku yang sudah tertahan hingga ujung. Ini pertama kalinya Dika
marah padaku.
***
Rumah sakit. Sebuah tempat yang benar-benar aku benci. Entah
kenapa rasanya aku muak dengan tempat ini. Sudah kali ketiga aku harus cek up
karena penyakit Laringitis (Radang Pita Suara) yang aku derita, padahal saat
ini aku sedang H-2 ujian proposal terakhir yang menentukan untuk Yudisiumku.
Sudah dua hari, aku tidak mendengar kabar dari Dika. Ingin
sekali ku melihat sebuah pesan di sela-sela kesibukanku seperti sekarang ini.
Namun aku hanya bisa berharap.
“Luna?” ucap salah satu temanku, Stella.
“Ada apa Stel?” tanyaku
“Aku tadi lihat kak Dika di cafe sama Kak Nella”
“Kak Nella yang dulu temennya Kak Dika?”
Stella mengangguk. “Owalah dia cuman temen deket kok”
***
Hari-H. Ujian proposal terakhir. Aku benar-benar harus
menggunakan waktu dengan baik. Namun aku rasa ada sesuatu yang aneh padaku,
karena dua hari yang lalu Stella memberitahu kabar Kak Dika yang sebenarnya
tidak mengejutkanku. Kak Nella memang dari dulu berteman dekat dengannya,
bahkan sebelum aku mengenal Dika, mereka sudah berteman. Aku tidak khawatir
sama sekali.
Namun, tepat seperempat jam sebelum aku melaksanakan ujian,
ponselku bergetar. Sebuah pesan foto tertera disana. Aku mengurungkan niatku
untuk membuka pesan itu, karena aku sudah melihat dosen penguji, dosen
pembimbing 1 dan 2 sudah duduk didepan tepat disamping layar, bahkan kursi
pendengar sudah terlihat ramai dipenuhi mahasiswa semester 2-6.
Aku memutuskan untuk melaksanakan ujian proposal dulu.
Sampai akhirnya, ujian ini berjalan dengan lancar. Setelah usai, aku membuka
isi ponsel yang ternyata dari Stella. Sebuah foto mengejutkan tertera disana. Foto
yang membuatku bahkan tak bisa menelan ludahku. Saat ini, jantungku rasanya
sangat sakit. Aku menjatuhkan ponselku dengan tiba-tba. Tiga dosen yang belum
beranjak, dan beberapa mahasiswa yang hendak keluar menoleh ke arahku. Kaki ini
benar-benar sudah tak bisa menahan berat badanku, aku terjatuh, tersungkur ke
lantai hingga semuanya gelap dan tak terlihat lagi.
***
Mataku sedikit demi sedikit terbuka. Kepalaku terasa berat,
disana orang tua dan adikku berdiri tepat disampingku, bahkan kedua temanku
Stella dan Naya turut serta menemaniku. Mencoba membuka suara, namun hal aneh membuatku
bingung, karena aku sama sekali tak bisa mendengar suaraku sendiri. Ibuku
memberi tahu, bahwa Radang itu merusak seluruh pita suaraku. Aku sangat
terkejut, kejadian setelah ujian proposal kemarin sangatlah fatal, rasa kaget
setelah melihat undangan pernikahan Dika dan Nella membuatku merusak suaraku
sendiri. Stella berulang kali meminta maaf padaku, tapi ini benar-benar bukan
kesalahannya. Aku tak bisa menyalahkan
Stella.
Dua hari berlalu, hari ini adalah hari dimana perikahan
Nella dan Dika berlangsung disebuah gedung. Sedangkan aku, masih terasa syok
dirumah sakit. Hatiku hancur, benar-benar hancur. Menerima kenyataan bahwa
suaraku rusak, dan Dika meninggalkanku. Aku kecewa dan menyesal karena sudah
terlalu berharap lebih padanya, namun aku tak bisa berbuat apa-apa.
***
Sudah seminggu setelah pernikahan Dika. Aku masih merenung
seperti orang gila didalam kamar. Hanya keluar untuk makan dan pergi kekamar
mandi. Namun karena hal itu, aku malah berfikir untuk pergi ke kediaman Nella
dan Dika. Entah aku terlalu berani atau apa, aku benar-benar ingin kesana.
Aku mengetuk pintu rumah mereka yang berada di salah satu
perumahan elit di Semarang. Rumahnya cukup besar jika hanya ditinggali untuk
mereka berdua, namun tak menunggu lama, Nella membuka pintunya. “Hai, Luna ada
apa?” tanya Nella dengan suara normal, karena Nella bukan seorang yang
berkebutuhan khusus.
“Dika ada dirumah tidak?” tanyaku dalam bahasa isyarat. Aku
tau Nella bisa berbahasa isyarat karena dalam jurusan PLB yang sama dengan
Dika.
“Ada, ngomong pake biasa aja kali Lun, gapapa” ujar Nella
sedikit menaikan alisnya. Aku tau, bahwa Nella belum tau aku kehilangan
suaraku. Aku tidak berniat memberitahunya, karena aku takut pasti dia akan
memberitahu pada Dika tentang penyakiktku. Karena Nella tau, hubunganku dengan
Dika dulu. Aku tersenyum, ketika Nella menyuruhku masuk dan duduk diruang tamu.
Aku melihat wajah Dika sedikit pucat keluar dari dalam
kamarnya, dengan perasaan tidak enak aku memulai pembicaraan dalam bahasa
isyarat. “Apa kabar?” ucapku dengan senyum palsuku.
“Ada apa?” tanya Dika terlihat malas dalam bahasa isyarat
juga.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin mengucapkan selamat
menempuh hidup baru”
“Iya, terima kasih. Aku sudah mengundangmu, tetapi katanya
kau sedang dirumah sakit. Ada apa?”
Deg... hatiku rasanya akan meledak. Melihat Dika
seolah-olah tidak merasa bersalah sedikitpun dengan apa yang dia ucapkan. Mataku
sedikit berkaca-kaca, karena aku benar-benar tidak bisa menahan rasa sakit ini.
“Hanya sakit kecil. Kalau begitu aku pulang dulu ya,
Setidaknya aku sudah senang bertemu denganmu hari ini” ucapku sembari berdiri
dan hendak akan melangkahkan kakiku keluar. Namun tiba-tiba, Nella keluar dari
dapur membawakan dua sirup yang ia tuang diatas cangkir bening berbentuk
semangka favoritku. “Luna, cepat sekali udah mau pulang aja. Diminum dulu, udah
aku siapin loh” ujar Nella yang perlahan mendekat. “Tak apa-apa kak, saya harus
pulang menyiapkan yudisium. Permisi” ucapku dalam bahasa isyarat pada Nella.
Aku melihat Dika mengrenyitkan dahinya bingung, akhirnya aku pergi meninggalkan
mereka berdua.
***
“Kenapa dia bicara padamu dalam bahasa isyarat?” tanya Dika
pada istrinya dalam bahasa isyarat juga.
“Aku tidak tau”
“Apa mungkin agar aku tau apa yang kalian bicarakan?”
“Tidak mungkin, karena ketika aku membukakan pintu, dia juga
megobrol padaku dalam bahasa isyarat”
Setelah obrolan singkat itu, Dika memutuskan untuk mencari
tau kebenaran ini dengan Stella sahabat Luna.
***
Belakang pohon beringin didekat kampus, adalah tempat yang
dijanjikan Dika untuk bertemu Stella. Setelah bertemu, Dika sedikit terkejut,
karena tiba-tiba pria itu disodori bahasa isyarat juga oleh Stella.
“Ada apa?” tanya Stella dalam bahasa isyarat.
Sedikit waktu untuk Dika membalas ucapan Stella, karena
sebenarnya pria itu sudah menyiapkan ponsel nokia untuk berkomunikasi dengan
Stella.
“Kenapa semua orang bisa bahasa ini?” tanya Dika sedikit
tersentak.
Stella tersenyum kecut, dengan air mata yang sudah
membendung di ujung matanya. “Karena ini adalah bahasa yang membantuku
berkomunikasi dengan sahabatku tercinta”
“Apa maksudmu?” tanya Dika kebingungan.
“Luna Silva. Aku harus mengerti apa yang dia bicarakan.
Makannya, aku rela melakukan apapun untuk memahami bahasa isyarat”
Mata Dika sedikit mendelik, sesuatu yang tak bisa ia
bayangkan membuatnya tak mengerti apa yang Stella maksud. “Apa maksudmu?” tanya
Dika dengan menggerakkan tangannya.
“Luna Silva. Gadis yang bercita-cita menjadi desainer, sudah
kehilangan cita-citanya karena kau”
“Jangan membuatku pusing, sebenarnya ada apa dengannya?”
“Dia kehilangan suaranya”
Dika terlihat lemas, setelah sebuah kalimat dalam bahasa
isyarat yang Stella lontarkan. Belum sempat Dika menjawab, Stella kembali
menimpali. “Dia kehilangan itu setelah kau memaksaku mengirim foto undangan
pernikahanmu padanya. Seharusnya kau bilang dari awal bahwa kau mencintainya”
ujar Stella dengan sedikit memecahkan tangisnya karena hal ini begitu
menyiksanya.
“Maaf”
***
Aku menata meja belajarku dengan sedikit menahan sakit di
hidungku. Sepertinya pita suaraku benar-benar harus menerima pengobatan
intensif. Namun tak lama, sebuah suara
seperti orang yag sedang saling pukul terdengar jelas ditelingaku. Ternyata
benar, bahwa itu adalah ayahku dengan Dika. Aku berlari dengan sedikit syok ke
arah mereka berdua yang sedang bertengkar didepan pintu rumahku. Dengan sangat
terkejut, aku memeluk Dika erat. Aku tak tau apa yang harus kulakukan untuk
memisahkan ayahku dan Dika yang saat ini sedang meringis kesakitan. Pertama
kalinya aku memeluk Dika, aku menangis keras, walaupun suaraku benar-benar
gagu. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ayahku sudah berhenti, dan malah
menangis dibelakangku. Aku melepas pelukan Dika, menatapnya penuh rasa rindu,
begitu pula pria itu. Perlahan tanganku menyentuh wajahnya, dia membalasnya.
Sampai akhirnya, aku melihat dia menangis untuk pertama kali dan mengucapkan
kata ‘Maaf’ dari artikulasi mulutnya.
“Aku tak tau kau kehilangan semuanya karena aku” ucapnya
dalam mulutnya walaupun sama sekali tak terdengar. “Aku mencintaimu, Luna
Silva”
Mataku berkaca-kaca, aku tak habis pikir aku mengerti apa
yang dia ucapkan, untuk pertama kalinya, setelah empat tahun dia menyatakan
cintanya padaku, dalam posisi dia yang sudah beristri.
Aku hanya meneteskan air mataku tanpa menjawab ucapannya.
“Aku minta maaf, karena selama ini aku baru berani menyatakan cinta pada wanita
sempurna sepertimu” lanjutnya dalam bahasa isyarat.
“Tapi kenapa kau menikahi Nella? Bukankah dia juga wanita
sempurna?” tanyaku lugas dengan tangis yang masih membajiri pipiku.
“Aku dijodohkan Lun. Aku menyetujuinya tanpa pikir panjang,
karena aku pikir kau tidak akan menerimaku sebagai kekasihmu, karena aku seorang
Tuna Rungu”
“Kau tau, aku bahkan menyukaimu sebelum kau mengenalku”
“Aku sudah tau, terima kasih sudah berada disampingku selama
ini” ungkap Dika dengan senyum dan tangis kecilnya.
Aku tersenyum tulus.
Merasa lega, melihat Dika sudah memaafkannya, dan melihatnya bisa bahagia
walaupun dengan wanita lain.
“Terima kasih juga, maaf aku menjadi wanita yang sangat
kekanakan. Semoga kita selalu menjadi seperti ini.”
Ayahku terlihat terdiam tepat dibelakangku. Tak peduli dia
melihat kisah tragis kamu dalam persepsi seperti apa. Aku menatap Dika dengan
sangat ikhlas, begitu sebaliknya.
END.
Komentar
Posting Komentar